Bangun Kembali Mental Para Penyintas Gempa

jiwa orang dewasa lebih rentan ditimpa stres akibat gempa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Azan Zhuhur berkumandang di salah satu masjid darurat. Warga sekonyong-konyong merapat. Mereka tanggap mengikuti suara muazin untuk menyegerakan shalat berjamaah. Masjid itu pun penuh. Lelaki, perempuan, tua, muda, anak-anak khusyuk menjalankan ibadah wajib itu.

Jamaah itu merupakan pengungsi dari Dusun Orong Ramput, Desa Medana, Tanjung, Kabupaten Lombok Utara. Pantauan Republika.co.id, rumah tinggal mereka hancur akibat gempa yang terjadi pada Juli dan Agustus lalu.

Mereka hanya bisa menikmati kenangan rumah lewat puing-puingnya semata. Mereka kini tinggal di tenda- tenda darurat. Para pengungsi itu menjalani hidup sekadarnya.

Lalu, Burhanudin menjadi imam rawatib di masjid tak bernama itu. Dia berupaya membangun mental para penyintas gempa lewat kegiatan religi. Dia berkisah, jiwa orang dewasa lebih rentan ditimpa stres akibat gempa. Tatapan mereka kosong.

Waktu gempa 5 Agustus lalu, orang-orang lari muter-muter enggakjelas. Padahal, enggakada bangunan, tapi tetap lari. Mereka sudah bingung, kata dia.

Burhanudin pun mengajak mereka kembali kepada Allah SWT. Sekali waktu, dia menginisiasi shalat tahajud berjamaah di masjid darurat. Shalat itu pun diiringi dengan muhasabah. Banyak yang nangis.Tapi, kita enggakterlalu sering karena takut bosan, jelas dia.

Pada waktu berbeda, Burhanuddin mengundang tim trauma healingdari Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) untuk menghibur anak-anak. Dengan cara yang ceria, tim trauma healingtersebut mengajak anak-anak untuk tetap bersyukur kepada Allah SWT di tengah kondisi sulit sekarang ini.

Lalu, Burhanuddin tidak sendiri. Beruntung, masih banyak lembaga filantropi yang peduli dengan dakwah bagi para penyintas gempa. PPPA Daarul Quran salah satunya. Lewat aksi Recovery Lombok bangkit, mereka fokus pada pembangunan rumah-rumah layak huni. Hingga saat ini, bantuan yang telah tersalurkan untuk pembangunan Rumah Quran telah mencapai angka dua hingga tiga miliar rupiah.



Source link