Kowani: kehadiran Presiden pacu semangat peserta berkinerja

Yogyakarta (Antara News) – Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan bahwa kehadiran Presiden RI Joko Widodo memacu semangat para peserta Sidang Umum Dewan Perempuan Internasional  untuk meningkatkan kinerjak.
    “Menjadi lebih bersemangat meningkatkan kinerja dalam memperjuangkan hak wanita dan anak di seluruh Indonesia,” tutur Giwo saat menyampaikan laporan pembukaan Sidang Umum ke-35 Dewan Perempuan Internasional (ICW) dan Temu Seribu Organisasi Perempuan Indonesia di Yogyakarta, Jumat.
    Menurut dia, kehadiran Presiden Jokowi dalam agenda yang dihadiri delegasi dari 49 negara ini merupakan sebuah kebanggaan yang membahagiakan.
    Dalam penyampaian laporan tersebut, Giwo juga menyampaikan kepada presiden tentang latar belakang pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi Sidang Umumke-35  ICW.
Baca juga: Presiden ingatkan persatuan Indonesia harus terus dijaga
    “Pada 22 hingga 25 Desember 1928, dilaksanakan konferensi perempuan Indonesia pertama di kota ini. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah baru dalam perjuangan perempuan,” pungkas Giwo.
    Kesiapan Kowani dalam menyelenggarakan Sidang Umum ICW ke-35 dan Temu Seribu Organisasi Perempuan Indonesia sudah diperhitungkan sejak tiga tahun lalu.
    Kala itu, Kowani mengajukan Indonesia sebagai tuan rumah Sidang Umum ke-35 pada agenda Sidang Umum ke-34 di Izmir, Turki.
    Kowani menjadi organisasi perempuan tertua dan terbesar di Indonesia dengan jumlah anggota keseluruhan mencapai 62 juta perempuan di seluruh Indonesia.
    Dalam kesempatan tersebut, dia pun mengingatkan bahwa peran perempuan sebagai Ibu Bangsa bukan sebuah beban.
    “Peran Ibu Bangsa bukan beban, tapi sebuah kehormatan karena harus bisa menyiapkan sumber daya yang berwawasan, kreatif, dan berkebangsaan,” ujar Giwo.
    Kegiatan ini dihadiri 169 pimpinan organisasi perempuan yang tergabung di ICW, serta 1.000 pimpinan organisasi perempuan dan 2.050 di seluruh Indonesia.

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2018



Source link

Komentar